Minggu, 27 Desember 2015

Biokimia: Penyakit Autoimun



HIPERSENSITIFITAS

Hipersensitifitas adalah suatu respon antigenik yang berlebihan, terjadi pada individu yang sebelumnya telah mengalami suatu sensitisasi dengan antigen atau alergen tertentu. Beberapa respon imun dapat menyebabkan reaksi hipersensitifitas dan berbahaya bagi tubuh apabila sistem imun merusak sel-sel tubuh sehingga dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan penyakit autoimun (Radji, 2010).
Berdasarkan mekanisme reaksi imunologik yang terjadi, reaksi hipersensitifitas dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:
1.      Hipersensitifitas Tipe I
Hipersensitifitas tipe I (hipersensitivitas langsung atau anafilaktik) berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan saluran gastrointestinal. Reaksi tipe I timbul kurang dari 1 jam sesudah tubuh terkena alergen yang sama untuk kedua kalinya. Pada reaksi tipe ini, yang berperan adalah antibodi imunoglobulin E (IgE), sel mast ataupun basofil, dan sifat genetik seseorang yang cenderung terkena alergi (atopi). Alergen berkaitan silang dengan IgE, kemudian sel mast dan basofil mengeluarkan amina vasoaktif dan mediator kimiawi lainnya sehingga timbul manifestasi. Manifestasi yang dapat ditimbulkan dari reaksi ini adalah berupa anafilaksis, urtikaria, asma bronchial, atau dermatitis. Uji diagnortik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan atau intradermal) dan ELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (penyebab alergi) yang dicurigai (Gupte, 1990).
2.      Hipersensitifitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II (reaksi sitotoksik atau sitolisis) disebabkan oleh antibodi yang berupa  imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe II yaitu IgG dan IgM berikatan dengan antigen di permukaan sel, kemudian fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen (ADCC dan atau antibodi) setelah itu mediator kimiawi dikeluarkan dan timbul manifestasi berupa anemia hemolitik autoimun, eritoblastosis fetalis, sindrom Good Pasture pemvigus vulgaris. Anemia Hemolitik Autoimun dipicu oleh obat-obatan seperti pensilin yang dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berkaitan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah. Sindrom Goodpasture disebabkan IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus, sehingga menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pemfigus vulgaris disebabkan IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler diantara sel epidermal (Gupte, 1990).
3.      Hipersensitifitas Tipe III
Hipersensitivitas tipe III (hipersensitivitas kompleks imun) disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut dalam jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, kompleks antigen-anibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya dagosit. Namun adanya bakteri, virus, lingkungan antigen seperti spora fungi, bahan sayuran, dan hewan yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut, sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus menerus. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe III yaitu terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang sulit difagosit, mengaktifkan komplemen, menarik perhatian neutrofil, pelepasan enzim lisosom, pengeluaran mediator kimiawi dan timbul manifestasi berupa reaksi Arthus, serum sickness, LES, AR, Glomerulonefritis, dan penumonitis (Gupte, 1990).
Ganguan yang sering terjadi pada reaksi hipersensitifitas tipe III, yaitu:
a.       Kompleks imun mengendap di dinding pembuluh darah.
Kompleks imun yang terdiri atas antigen dalam sirkulasi dan imunoglobulin M (IgM) atau imunoglobulin G (IgG) diendapkan di membran basal vaskular dan membran basal ginjal yang menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan luas. Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan agregasi trombosit, aktivasi makrofag, perubaham permeabilitas vaskular, aktivasi sel mast, produksi dan pelepasan mediator inflamasi dan bahan kemotaktik serta influx neutrofil. Bahan toksik yang dilepas neutrofil dapat menimbulkan kerusakan jaringan setempat (Baratawidjaja, 2012).
b.      Kompleks imun mengendap di jaringan
Hal yang mempengaruhi terjadinya pengendapan kompleks imun di jaringan adalah ukuran kompleks imun yang kecil dan permeabilitas vaskular yang meningkat, antara lain karena histamin dilepas oleh sel mast (Baratawidjaja, 2012).
4.      Hipersensitifitas Tipe IV
Hipersensitifitas tipe IV diperantarai oleh sel atau tipe lambat (delay-tipe). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag. Dalam reaksi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis. Reaksi ini dibedakan menjadi beberapa reaksi, seperti tuberkulin, reaksi inflamasi granulosa, dan reaksi penolakan transplant. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe IV yaitu limfosit T tersensitasi, pelepasan sitokin dan mediator lainnya atau sitotoksik yang diperantarai oleh sel T langsung, timbul menifestasi berupa tuberkulosis, dermatitis kontak, dan reaksi penolakan transplant (Gupte, 1990).
Ciri-ciri reaksi hipersensitifitas tipe IV, yaitu:
a.       Perlu rangsangan dari antigen.
b.      Pada penderita yang peka reaksi terjadi pada pemaparan terhadap antigen yang khas misalnya reaksi tuberkulin.
c.       Masa inkubasi berlangsung selama 7-10 hari.
d.      Hipersensitifitas tipe lambat dapat dipindahkan melalui sel-sel jaringan limfoid, eksudat peritoneum dan limfosit darah (Gupte, 1990).
Reaksi hipersensitifitas tipe IV terdiri dari 2 jenis, yaitu:
a.       Reaksi Granulomatosa
Reaksi ini ditandai dengan pembentukan granuloma yang terdiri dari sel-sel berinti tunggal yang telah berubah, histiosit, sel-sel epiteloid dan sel-sel dari benda asing (Gupte, 1990)
b.      Reaksi Tuberkulin
Hipersensitifitas tuberkulin adalah bentuk alergi baktreial spesifik terhadap produk filtrat biakan yang bila disuntikkan pada kulit akan menimbulkan reaksi hipersensitifitas lambat tipe IV. Yang berperan dalam reaksi ini adalah sel limfosit CD4+ T. Setelah suntikan intrakutan ekstrak tuberkulin atau derivate protein yang dimurnikan (PPD), daerah kemerahan dan indurasi timbul di tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu yang pernah kontak dengan M. Tuberkulosis, kulit bengkak terjadi pada hari ke 7-10 pasca induksi. Reaksi dapat dipindahkan melalui sel T (Baratawidjaja, 2012).
Pemaparan ulang sel T memori pada kompleks antigen-MHC kelas II yang ditampilkan oleh APC merangsang  sel T CD4+ untuk melakukan transformasi blast disertai pembentukan DNA dan poliferasi sel. Sebagian dari populasi limfosit yang teraktivasi mengeluarkan berbagai mediator yang menarik makrofag ke tempat bersangkutan. Makrofag merupakan sel APC utama yang berperan dalam reaksi tuberkulin, meskipun ada juga sel-sel CD1+ yang membuktikan keterlibatan sel langerhans dalam reaksi ini. Limfosit dan makrofag yang terdapat dalam infiltrat mengekspresikan HLA-DR. Sel-sel PMN segera meninggalkan tempat tersebut tetapi sel-sel mononuclear tetap berada di tempat membentuk infiltrat yang sebagian besar terdiri atas limfosit CD4+ dan CD8+ dengan perbandingan 2:1 dan sel seri monosit-makrofag (Kresno, 2010).

Hipersensitifitas dapat ditangani dengan cara:
1. Menghindari alergen (penyebab alergi).
2. Terapi farmakologis dengan antihistamin, kortikosteroid, adrenergik dan kromolin sodium.
a.       Antihistamin berperan sebagai antagonis kompetitif, sehingga lebih efektif dalam mencegah daripada melawan kerja histamine.
b.      Kortikosteroid merupakan obat paling kuat yang tersedia untuk pengobatan alergi. Steroid topikal mempunyai pengaruh lokal langsung yang meliputi pengurangan radang, edema, produksi mukus, permeabilitas vaskuler, dan kadar IgE mukosa.
c.       Adrenergik menghambat reaksi fase cepat maupun lambat terhadap alergen inhalen, dan menghambat hiperesponsivitas bronkial akibat alergen selama 34 jam.
d.      Kromolin sodium adalah garam disodium 1,3-bis-2-hidroksipropan. Zat ini merupakan analog kimia obat khellin yang mempunyai sifat merelaksasikan otot polos. Obat ini tidak mempunyai sifat bronkodilator karenanya obat ini tidak efektif unutk pengobatan asma akut. Kromolin paling bermanfaat pada asma alergika atau ekstrinsik.
3. Imunoterapi, diindikasikan untuk penderita rinitis alergi, asma yang diperantarai IgE atau alergi terhadap serangga. Imunoterapi dapat menghambat pelepasan histamin dari basofil pada tantangan dengan antigen E.
4. Profilaksis. Profilaksis dengan steroid anabolik atau plasmin inhibitor seperti traneksamat, sering kali sangat efektif untuk urtikaria atau angioedema.

Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar Edisi 10. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Gupte, Satish, MD. 1990. Mikrobiologi Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Radji, Dr. Maksum, M. Biomed. 2010. Imunologi & Virologi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan.

9 komentar:

  1. Sangat menginspirasi untuk lebih giat belajar dalam biokimia! :D

    BalasHapus
  2. Terimakasih postingannya sangat membantu

    BalasHapus
  3. jadi semakin paham dengan penyakit-penyakit

    BalasHapus
  4. thanks infonya, jadi semakin mengeri dengan macam-macam alergi

    BalasHapus
  5. terimakasih informasinya

    BalasHapus
  6. terimakasih ya postingannya cukup membantu untuk tugas saya

    BalasHapus
  7. Bisa menjadi tambahan ilmu. Terimakasih

    BalasHapus