Kamis, 31 Desember 2015

Manfaat Minyak Nabati untuk Kesehatan Gigi dan Mulut


Gigi merupakan bagian tubuh yang nyaris selalu melakukan aktivitas setiap menitnya. Segala jenis kandungan makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia memiliki dampak bagi kesehatan gigi dan mulut.

Studi modern menunjukkan betapa efektifnya perawatan dan pengobatan gigi dengan menggunakan minyak nabati dan minyak kelapa yang biasanya disebut `Oil Pulling`. Teknik pengobatan oil pulling ini dapat mengeluarkan racun dari mulut serta membersihkan gigi juga gusi dengan kandungan minyak tersebut. Berkumur dengan minyak masak organik seperti minyak kelapa, minyak biji anggur, minyak almond, atau minyak zaitun setiap hari dapat meremajakan sel-sel, juga “menarik” racun keluar dari dalam mulut, dikutip dari laman Dental Implants Info, Kamis (24/12/2015).

Terdapat dua teknik untuk melakukan perawatan dengan oil pulling yaitu kavala dan gandusa. Kavala dilakukan dengan mengisi mulut dengan minyak nabati dan menahannya di dalam selama 3-4 menit dan diulang sebanyak dua atau tiga kali. Metode kedua ialah gandusa, dengan cara berkumur selama 3-5 menit dan kemudian meludahkannya. Membuang atau meludahkan minyak ke wastafel dapat menyumbat pipa wastafel. Sebaiknya Anda meludah ke tempat sampah setelah selesai melakukan proses oil pulling ini.

Sumber: Liputan6.com

Kenali Tanda-tanda Kanker Kelenjar Getah Bening


Layaknya kanker darah atau leukimia, limfoma merupakan 6 jenis kanker paling umum ditemukan di Indonesia. Data Globocan 2012 mencatat, setiap 90 detik, terdapat 400.000 orang per tahun menderita penyakit ini.

Ahli kanker Dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI di RS Cipto Mangunkusumo, Dr. dr Andhika Rachman, SpPD, KHOM mengatakan, limfoma adalah jenis kanker yang berasal dari sel-sel yang disebut limfosit (salah satu sel darah putih) yang merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh.

"Kebanyakan kanker kelenjar getah bening berkembang ketika terjadi perubahan atau mutasi di dalam limfosit sehingga sel berkembang biak lebi cepat dan hidup lebih lama dibandingkan limfosit normal," katanya disela-sela Peringatan Hari Limfoma Sedunia di Jakarta, Selasa (15/9/2015).
Masalahnya, menurut Andhika, limfoma menyebar lewat aliran darah dan sistem limfatik sehingga dapat tumbuh di limpa, sumsum tulang belakang dan organ yang paling umum seperti leher hingga bahu (nodus limfa).

Untuk itu, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai seperti:
1. Pembengkakan nodus limfa yang tidak terasa sakit seperti di leher, ketiak, atau pangkal paha
2. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
3. Demam tanpa sebab yang jelas
4. Berkeringat di malam hari
5. Batuk, sulit bernapas, dan nyeri di dada atau napas pendek
6. Lemah dan kelelahan
7. Nyeri, pembengkakan atau rasa penuh pada perut

Kanker kelenjar getah bening ini biasanya menyerang di usia lanjut. Lantas, apa penyebabnya?
Ahli kanker Dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI di RS Cipto Mangunkusumo, Dr. dr Andhika Rachman, SpPD, KHOM, FINASIM mengatakan, kebanyakan kanker getah bening disebabkan oleh perubahan mutasi dalam limfosit sehingga sel berkembang biak lebih cepat dan hidup lebih lama.

Namun ada faktor risiko pada jenis non Hodgkin yang dapat memicunya, seperti:
1. Sistem kekebalan tubuh yang menurun
Disebabkan karena riwayat keturunan kelainan kekebalan tubuh, penyakit autoimun atau penanganan pascatransplantasi dengan obat-obatan tertentu.
2. Infeksi virus
Beberapa jenis infeksi dapat meningkatkan faktor risiko kanker kelenjar getah bening, seperti HIV, Virus Epstein Barr, Helicobacter pylori, virus human T-cell leukimia (HTLV-1) dan virus hepatitis C.
3. Usia
Kanker kelenjar getah bening non Hodgkin dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Namun pada umumnya, kanker ini lebih banyak menyerang usia diatas 60 tahun.

Sumber: Liputan6.com

Seputar Akfar Theresiana Semarang





Sejak tahun 1964, Yayasan Bernardus Sekolah Theresiana mengelola Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Theresiana yang menghasilkan tenaga kesehatan yang biasa disebut dengan Asisten Apoteker. Dari tahun ke tahun perkembangan SMF Theresiana ini makin pesat. Jumlah lulusan yang dihasilkan semakin banyak dan makin diterima oleh masyarakat. Akan tetapi seiring adanya perubahan regulasi dari Departemen Kesehatan (tercantum dalam Sistem Kesehatan Nasional) bahwasanya tenaga kesehatan sekurang-kurangnya berpendidikan diploma III maka dengan didorong oleh keinginan untuk tetap membantu pemerintah dalam menyediakan tenaga kesehatan bidang farmasi dan dengan pengalaman dalam mengelola Sekolah Menengah Farmasi yang cukup lama maka Yayasan Bernardus Sekolah Theresiana mendirikan Akademi Farmasi Theresiana Semarang.
Akademi Farmasi Theresiana Semarang didirikan pada tanggal 10 Juli 2007 dibawah Yayasan Bernardus Sekolah-sekolah Theresiana Keuskupan Agung Semarang dengan ijin operasional SK Dirjen Dikti No. 101/D/O/2007. Pada tanggal 7 Maret 2011 mendapat pengakuan status terakreditasi strata B dari Kementrian Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Akademi Farmasi Theresiana Semarang sampai saat ini dapat melaksanakan proses belajar mengajar secara mandiri. Dengan didukung fasilitas yang lengkap (dan terus ditambahkan sesuai dengan perkembangan jaman) serta didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya, akan menjamin kualitas dari lulusan yang telah dihasilkan oleh Akademi Farmasi Theresiana. Melalui sistem penjamin mutu yang ketat dan dievaluasi dalam setiap periode guna menjamin kualitas dari DIII Farmasi Akfar Theresiana.
Berlokasi di Jalan Gajah Mada menjadikan Akademi Farmasi Theresiana, sebuah Akademi yang berada di tengah kota, letak yang strategis. Dapat dicapai dari segala arah bahkan dilewati jalur Trans Semarang yang menjadi angkutan primadona orang Semarang. Kemudahan lokasi ini juga berada di segitiga emas, kawasan Termaju di Semarang, yaitu di Jalan Gajah Mada.


VISI :
Perguruan Tinggi Katolik penghasil Ahli Madya Farmasi yang kompeten dan berdedikasi, yang mampu bersaing di ASEAN pada tahun 2022.
MISI :
1. Meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
2. Membekali mahasiswa dengan praktek kerja di unit produksi, distribusi dan pengawasan sediaan farmasi.
3. Menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kefarmasian.
4. Membekali mahasiswa dengan budi pekerti yang berdasarkan nilai-nilai kristiani.
5. Menjalin kerjasama dengan pengguna jasa lulusan baik didalam maupun diluar negeri.

Tenaga Pengajar di Akademi Farmasi Theresiana

Tenaga Pengajar di Akademi Farmasi Theresiana adalah dosen-dosen dengan kualifikasi memenuhi persyaratan dari aturan yang telah ditetapkan oleh DIKTI, serta telah melewati serangkaian proses dalam seleksi dosen dari Yayasan Bernardus.
Dosen Tetap
1. Fef Rukminingsih, M.Sc., Apt (Sedang Menempuh studi lanjut S3 Ilmu Farmasi di UGM)
2.Margareta Retno Priamsari., M.Sc., Apt
3. Anasthasia Pujiastuti, M.Sc., Apt
4. Monica Kristiani, S.Farm., Apt (dalam penyelesaian studi S2 di UGM)
5. Paulina Maya Octasari, S.Farm., Apt (dalam penyelesaian studi S2 di UGM)
6. OH, Rita Sri Hastuti (dalam penyelesaian studi S2 di UNIKA Soegijapranata Semarang)
7. Fransiska Ayuningtyas Widyastani, M.Sc., Apt
8. Septiana Lakmi Ramayani, M.Sc., Apt
9. Maria Mita Susanti, S.Si., M.Kes
10. Priyo Wibowo, M.Kom
11. Yustinus Sigit Pamungkas, S.Psi., M.Psi
12. Gregorius Daru Wijoyoko, S.S
Dosen Tidak Tetap
1. DR. Eng Agus Setiawan, M.Si
2. Dra. MG Isworo Rukmi, M.Si
3. Mirya Himpuno, M.Si
4. Robertus Heri SU, M.Si
5. Drs. Anwar Djaelani, M.Si

Minggu, 27 Desember 2015

Biokimia: Penyakit Autoimun



HIPERSENSITIFITAS

Hipersensitifitas adalah suatu respon antigenik yang berlebihan, terjadi pada individu yang sebelumnya telah mengalami suatu sensitisasi dengan antigen atau alergen tertentu. Beberapa respon imun dapat menyebabkan reaksi hipersensitifitas dan berbahaya bagi tubuh apabila sistem imun merusak sel-sel tubuh sehingga dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan penyakit autoimun (Radji, 2010).
Berdasarkan mekanisme reaksi imunologik yang terjadi, reaksi hipersensitifitas dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:
1.      Hipersensitifitas Tipe I
Hipersensitifitas tipe I (hipersensitivitas langsung atau anafilaktik) berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan saluran gastrointestinal. Reaksi tipe I timbul kurang dari 1 jam sesudah tubuh terkena alergen yang sama untuk kedua kalinya. Pada reaksi tipe ini, yang berperan adalah antibodi imunoglobulin E (IgE), sel mast ataupun basofil, dan sifat genetik seseorang yang cenderung terkena alergi (atopi). Alergen berkaitan silang dengan IgE, kemudian sel mast dan basofil mengeluarkan amina vasoaktif dan mediator kimiawi lainnya sehingga timbul manifestasi. Manifestasi yang dapat ditimbulkan dari reaksi ini adalah berupa anafilaksis, urtikaria, asma bronchial, atau dermatitis. Uji diagnortik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan atau intradermal) dan ELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (penyebab alergi) yang dicurigai (Gupte, 1990).
2.      Hipersensitifitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II (reaksi sitotoksik atau sitolisis) disebabkan oleh antibodi yang berupa  imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe II yaitu IgG dan IgM berikatan dengan antigen di permukaan sel, kemudian fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen (ADCC dan atau antibodi) setelah itu mediator kimiawi dikeluarkan dan timbul manifestasi berupa anemia hemolitik autoimun, eritoblastosis fetalis, sindrom Good Pasture pemvigus vulgaris. Anemia Hemolitik Autoimun dipicu oleh obat-obatan seperti pensilin yang dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berkaitan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah. Sindrom Goodpasture disebabkan IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus, sehingga menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pemfigus vulgaris disebabkan IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler diantara sel epidermal (Gupte, 1990).
3.      Hipersensitifitas Tipe III
Hipersensitivitas tipe III (hipersensitivitas kompleks imun) disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut dalam jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, kompleks antigen-anibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya dagosit. Namun adanya bakteri, virus, lingkungan antigen seperti spora fungi, bahan sayuran, dan hewan yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut, sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus menerus. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe III yaitu terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang sulit difagosit, mengaktifkan komplemen, menarik perhatian neutrofil, pelepasan enzim lisosom, pengeluaran mediator kimiawi dan timbul manifestasi berupa reaksi Arthus, serum sickness, LES, AR, Glomerulonefritis, dan penumonitis (Gupte, 1990).
Ganguan yang sering terjadi pada reaksi hipersensitifitas tipe III, yaitu:
a.       Kompleks imun mengendap di dinding pembuluh darah.
Kompleks imun yang terdiri atas antigen dalam sirkulasi dan imunoglobulin M (IgM) atau imunoglobulin G (IgG) diendapkan di membran basal vaskular dan membran basal ginjal yang menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan luas. Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan agregasi trombosit, aktivasi makrofag, perubaham permeabilitas vaskular, aktivasi sel mast, produksi dan pelepasan mediator inflamasi dan bahan kemotaktik serta influx neutrofil. Bahan toksik yang dilepas neutrofil dapat menimbulkan kerusakan jaringan setempat (Baratawidjaja, 2012).
b.      Kompleks imun mengendap di jaringan
Hal yang mempengaruhi terjadinya pengendapan kompleks imun di jaringan adalah ukuran kompleks imun yang kecil dan permeabilitas vaskular yang meningkat, antara lain karena histamin dilepas oleh sel mast (Baratawidjaja, 2012).
4.      Hipersensitifitas Tipe IV
Hipersensitifitas tipe IV diperantarai oleh sel atau tipe lambat (delay-tipe). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag. Dalam reaksi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis. Reaksi ini dibedakan menjadi beberapa reaksi, seperti tuberkulin, reaksi inflamasi granulosa, dan reaksi penolakan transplant. Mekanisme kerja hipersensitivitas tipe IV yaitu limfosit T tersensitasi, pelepasan sitokin dan mediator lainnya atau sitotoksik yang diperantarai oleh sel T langsung, timbul menifestasi berupa tuberkulosis, dermatitis kontak, dan reaksi penolakan transplant (Gupte, 1990).
Ciri-ciri reaksi hipersensitifitas tipe IV, yaitu:
a.       Perlu rangsangan dari antigen.
b.      Pada penderita yang peka reaksi terjadi pada pemaparan terhadap antigen yang khas misalnya reaksi tuberkulin.
c.       Masa inkubasi berlangsung selama 7-10 hari.
d.      Hipersensitifitas tipe lambat dapat dipindahkan melalui sel-sel jaringan limfoid, eksudat peritoneum dan limfosit darah (Gupte, 1990).
Reaksi hipersensitifitas tipe IV terdiri dari 2 jenis, yaitu:
a.       Reaksi Granulomatosa
Reaksi ini ditandai dengan pembentukan granuloma yang terdiri dari sel-sel berinti tunggal yang telah berubah, histiosit, sel-sel epiteloid dan sel-sel dari benda asing (Gupte, 1990)
b.      Reaksi Tuberkulin
Hipersensitifitas tuberkulin adalah bentuk alergi baktreial spesifik terhadap produk filtrat biakan yang bila disuntikkan pada kulit akan menimbulkan reaksi hipersensitifitas lambat tipe IV. Yang berperan dalam reaksi ini adalah sel limfosit CD4+ T. Setelah suntikan intrakutan ekstrak tuberkulin atau derivate protein yang dimurnikan (PPD), daerah kemerahan dan indurasi timbul di tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu yang pernah kontak dengan M. Tuberkulosis, kulit bengkak terjadi pada hari ke 7-10 pasca induksi. Reaksi dapat dipindahkan melalui sel T (Baratawidjaja, 2012).
Pemaparan ulang sel T memori pada kompleks antigen-MHC kelas II yang ditampilkan oleh APC merangsang  sel T CD4+ untuk melakukan transformasi blast disertai pembentukan DNA dan poliferasi sel. Sebagian dari populasi limfosit yang teraktivasi mengeluarkan berbagai mediator yang menarik makrofag ke tempat bersangkutan. Makrofag merupakan sel APC utama yang berperan dalam reaksi tuberkulin, meskipun ada juga sel-sel CD1+ yang membuktikan keterlibatan sel langerhans dalam reaksi ini. Limfosit dan makrofag yang terdapat dalam infiltrat mengekspresikan HLA-DR. Sel-sel PMN segera meninggalkan tempat tersebut tetapi sel-sel mononuclear tetap berada di tempat membentuk infiltrat yang sebagian besar terdiri atas limfosit CD4+ dan CD8+ dengan perbandingan 2:1 dan sel seri monosit-makrofag (Kresno, 2010).

Hipersensitifitas dapat ditangani dengan cara:
1. Menghindari alergen (penyebab alergi).
2. Terapi farmakologis dengan antihistamin, kortikosteroid, adrenergik dan kromolin sodium.
a.       Antihistamin berperan sebagai antagonis kompetitif, sehingga lebih efektif dalam mencegah daripada melawan kerja histamine.
b.      Kortikosteroid merupakan obat paling kuat yang tersedia untuk pengobatan alergi. Steroid topikal mempunyai pengaruh lokal langsung yang meliputi pengurangan radang, edema, produksi mukus, permeabilitas vaskuler, dan kadar IgE mukosa.
c.       Adrenergik menghambat reaksi fase cepat maupun lambat terhadap alergen inhalen, dan menghambat hiperesponsivitas bronkial akibat alergen selama 34 jam.
d.      Kromolin sodium adalah garam disodium 1,3-bis-2-hidroksipropan. Zat ini merupakan analog kimia obat khellin yang mempunyai sifat merelaksasikan otot polos. Obat ini tidak mempunyai sifat bronkodilator karenanya obat ini tidak efektif unutk pengobatan asma akut. Kromolin paling bermanfaat pada asma alergika atau ekstrinsik.
3. Imunoterapi, diindikasikan untuk penderita rinitis alergi, asma yang diperantarai IgE atau alergi terhadap serangga. Imunoterapi dapat menghambat pelepasan histamin dari basofil pada tantangan dengan antigen E.
4. Profilaksis. Profilaksis dengan steroid anabolik atau plasmin inhibitor seperti traneksamat, sering kali sangat efektif untuk urtikaria atau angioedema.

Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar Edisi 10. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Gupte, Satish, MD. 1990. Mikrobiologi Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Radji, Dr. Maksum, M. Biomed. 2010. Imunologi & Virologi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan.

Minggu, 13 Desember 2015

Trailer film 5 cm. Persahabatan, cita dan cinta



Taruh puncak itu di depan kita, dan jangan lepaskan! 
Yang kita perlukan adalah kaki yang berjalan lebih jauh, dan tangan yang berbuat lebih banyak.
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas.
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja.
Hati yang akan bekerja lebih keras.
Serta mulut yang akan selalu berdoa.
Dan setiap kali impian dan cita-cita muncul, letakkan di depan kening kita, jangan menempel, biarkan menggantung 5 cm di depan kening, supaya tidak terlepas dari mata kita.
Dan yang bisa dilakukan seorang manusia terhadap mimpi dan keyakinannya adalah ia hanya tinggal mempercayainya. 

Senin, 16 November 2015

Glimepiride



Glimepiride adalah obat untuk meningkatkan jumlah insulin yang dilepaskan oleh pankreas dan mengatasi kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes tipe 2. Insulin berguna membantu mengendalikan kadar gula di dalam darah dan merupakan sebuah hormon yang terbuat secara alami di dalam pankreas. Penderita diabetes melitus tidak dapat menggunakan insulin secara efektif atau tidak memiliki insulin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Glimepiride bisa diberikan bersama insulin atau obat anti-diabetes lainnya.
Glimepiride termasuk jenis obat anti-diabetes sulfonylurea. Penggunaan glimepiride harus dengan resep dokter karena glimepiride termasuk obat golongan keras. Pastikan untuk mengikuti resep dan petunjuk yang disarankan oleh dokter berdasarkan kondisi kesehatan anda.
Obat ini tidak cocok dikonsumsi oleh wanita hamil, menyusui, atau yang sedang mencoba untuk hamil. Harap berhati-hati bagi penderita gangguan hati, gangguan ginjal, defisiensi glucose 6-phosphate dehydrogenase (G6PD), dan porfiria. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.
Dosis awal glimepiride biasanya adalah 1 mg per hari dan bisa ditingkatkan sesuai tingkat keparahan penyakit dan atas anjuran dokter. Dosis maksimal glimepiride adalah 6 mg per hari. Mengonsumsi Glimepiride dengan Benar mengikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan glimepiride sebelum menggunakannya. Glimepiride dapat dikonsumsi sesaat sebelum atau pada saat sarapan. Gunakan air putih untuk menelan tablet glimepiride.
Periksakan kadar gula darah dan diri Anda secara rutin kepada dokter agar dapat mengetahui perkembangannya. Ikuti saran dokter tentang pola makan yang sehat dan olahraga secara teratur. Upaya untuk mengurangi merokok akan membantu proses pengobatan. Sebelum Anda melakukan olahraga fisik yang baru, konsultasikan terlebih dulu kepada dokter. Dosis mungkin perlu disesuaikan oleh dokter jika Anda lebih sering buang air kecil, merasa sangat lelah, dan merasa haus yang tidak biasa. Hindari mengonsumsi minuman keras karena dapat mempengaruhi kadar gula darah. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi glimepiride disarankan segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan menggandakan dosis glimepiride pada jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewat. Segera mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula jika mengalami gejala hipoglisemia seperti merasa lemas, pucat, jantung berdebar, penglihatan kabur, rasa lapar, dan gemetar.
Pada umumnya efek samping yang dapat terjadi bila mengkonsumsi glimepiride adalah konstipasi, mual, diare, pucat dan pusing.

Minggu, 15 November 2015

"Alam Farmasi"




Halo semuanyaa..
Salam hangat dari ADC *hug*. Kali ini aku akan sedikit bercerita tentang studyku di "alam farmasi" ya hahaha 

Ada yang tau apa itu farmasi?
Awalnya juga yang aku tau tentang farmasi ya cuma "oh itu ya, yang ngurusin obat".
Kalau menurut wikipedia sih farmasi itu salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Haha panjang ya, intinya farmasi itu berhubungan sama obat-obatan. Mulai dari meracik obat untuk pasien sampai memberi edukasi mengenai obat kepada pasien.

Awalnya aku juga ga terlalu paham sama jurusan farmasi, soalnya emang ga suka obat juga haha. Tapi saat menjelang kelas 3 SMP aku jadi cari-cari tau tentang farmasi. Sebenernya bukan karena pengen banget masuk jurusan farmasi, tapi karena aku disuruh nentuin mau ngelanjutin dimana setelas lulus SMP *padahal itu masih kelas 2 SMP-_-*. Aku memang ga minat masuk SMA jadi aku milih masuk SMK. Dan setelah itu, masih aja aku disuruh nentuin mau ambil jurusan apa. Kebanyakan sih pada nawarin jurusan sosial, tata boga, perhotelan, kecantikan, tata busana dan animasi. Di pikiranku, jurusan-jurusan itu ga pas banget sama aku yang memang agak tomboy dan ga bisa gambar. Terus ada temen aku yang ngomongin tentang farmasi sama aku dan dari modal "coba-coba" ini,  kami janjian masuk di jurusan farmasi. Mulai saat itu juga aku jadi cari-cari sekolah yang ada jurusan farmasinya. Ternyata ga banyak sekolah yang ada jurusan farmasinya. Waktu aku searching aja di Semarang cuma ada 3 sekolah yang ada jurusan farmasinya. Dan akhirnya aku pilih SMK Theresiana Semarang yang memang terbaik.

Susah ga sih di jurusan farmasi?
Kalau menurut aku, masuk di farmasi memang harus bener-bener dari keinginan sendiri biar ga ngerasain susah yang "berkepanjangan". Soalnya kalo kita masuk di farmasi cuma "terpaksa", kita bakalan ngerasa susah terus karena kita sendiri juga ga ikhlas menjalaninya. Memang susah sih awalnya. Yang awalnya ga ngerti apa-apa tentang dunia obat-obatan, disini bakalan dikenalin sama macam-macam jenis obat, bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh dan bagaimana menyerahkan obat kepada pasien. Aku yang awalnya cuma coba-coba agak kaget sih pas tau kalau sebegitu ribetnya masuk "alam farmasi". Tapi ya, ini pilihanku dan aku harus bertanggung jawab atas pilihanku. Di awal-awal menjadi anak farmasi sering banget mengeluh karena bisa dibilang kita beda dari yang lain. Beda gimana? Jadi, kalau anak sekolah lain libur, kita masih tetep belajar, praktek, banyak tugas dan banyak laporan praktek. Tapi kalau giliran kita libur, anak lain malah sekolah. Gimana mau ketemu sama temen-temen yang lain kalau begini keadaannya? HAHAHA. Itu pun masih sebagian kecil hal yang bikin sedih haha. Dengan keadaan seperti ini mungkin kami (anak farmasi) lebih diberikan kesabaran yang teramat sangat daripada yang lain. Seiring berjalannya waktu, aku jadi semakin bisa memahami suka dukanya menjadi anak farmasi dan semakin banyak angan-angan yang timbul setelah masuk di "alam farmasi". Seperti , "setelah lulus aku mau masuk di rumah sakit A, di pabrik obat B, buka apotek C, kerja di Pedagang Besar Farmasi (PBF) D, jadi apoteker di tempat E". Memang sangat senang bila membayangkan masa depan yang indah dan cerah, apalagi kalau bisa merealisasikannya. 

Di "alam farmasi", kami (anak farmasi) diajarkan untuk membuat berbagai jenis obat. Mulai dari obat padat (puyer, kapsul, bedak), obat setengah padat (gel, krim, pasta, salep) dan obat cair (sirup, emulsi, suspensi, elixir, saturasi). Dengan "senjata" mortir dan stamper, kami bisa membuat berbagai jenis sediaan obat tersebut. Sebelum membuat sediaan obat pun kami harus menghitung dosis obat itu agar obat itu berefek dengan baik. Jika salah menghitung dosis, bisa-bisa obatnya tidak berfek atau malah menjadi over dosis. Maka dari itu seorang farmasis harus cermat dan teliti, karena obat yang diberikan berhubungan dengan nyawa manusia. Setelah sediaan obat sudah jadi, kami juga harus mempelajari bagaimana nasib obat terebut di dalam tubuh, apakah diterima dengan baik oleh tubuh atau malah tubuh kita tidak bisa menerima obat tersebut. Kami juga harus bisa memberi tahukan tentang obat yang kami buat kepada pasien, seperti cara penggunaan obat, khasiat obat, efek samping yang mungkin terjadi hingga hal yang harus dihindari saat menggunakan obat tersebut. Selain itu kami juga dikenalkan dengan tanaman obat yang dijadikan simplisia, seperti rimpang jahe, daun jambu biji, akar wangi dan kulit kayu manis. Walaupun di "alam farmasi", kami tidak hanya diajarkan tentang obat-obatan, kami juga diajarkan pelajaran kimia, fisika dan akuntasi. Pelajaran tersebut diberikan bukan tanpa tujuan, karena materi yang disampaikan pun juga masih ada hubungannya dengan "alam farmasi". Terkadang, anak farmasi bisa disebut anak IPA (karena mempelajari fisika dan kimia) dan terkadang bisa disebut anak IPS (karena mempelajari akutansi) hahaha. Di pelajaran kimia pun ada prakteknya. Jadi di "alam farmasi" ga cuma praktek bikin obat, tapi juga praktek mereaksikan bahan-bahan kimia agar dapat mengetahui bagaimana reaksi bahan satu dengan bahan yang lain. Ada banyak bahan-bahan berbahaya di laboratorium kimia, sehingga saat praktek juga harus menggunakan perlengkapan yang dibutuhkan seperti menggunakan "jas kebesaran (jas laboratorium) dan menggunakan masker agar tidak langsung menghirup bahan-bahan kimia. 

Memang butuh perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Harus rela dan iklhas mendaki gunung lewati lembah dengan jalan berliku tajam *tsah*. Doa dan usaha jangan sampai tertinggal saat kita mulai berjuang. Dan jangan pernah berjalan sendiri saat berjuang, karena berjalan bersama akan lebih menyenangkan.

Sekian sedikit cerita saya tentang "alam farmasi"ku tercinta. Silakan beri komentar dan saran untuk saya dan cerita saya. Terimakasih. Salam mortir dan stamper!

Selasa, 10 November 2015

Camping Cantik Ceria bersama Pahampalam Unnes

Saat penat akan kesibukan datang, ku putuskan untuk ikut bersama mereka mencintai alam dan sejenak merefresh otak. Terimakasih telah memperbolehkanku menyusup diantara kalian. Kalian sangat hangat! Paham palam, anak papa. Celeng liar, wigwig!



Pulau Kartika Jaya Kendal. Indonesia itu indah kawan! #explorekendal

Pemasangan tenda

Lingkaran yang tak pernah ada ujungnya

Ketika senja datang

Menikmati pulau pribadi bersama orang tercinta ✌

Bersama berbagi cerita ditengah hangatnya api unggun

Saat membuka mata dan disambut mentari pagi


Penanaman magroove bersama paham palam unnes.